| on Wednesday, 20 June 2007
|
Views : 1605  |
Siaran Pers, 10 Nopember 2006 JATAM-AMAN-WALHI Jakarta. Demi mempertahankan kelestarian kawasan pegunungan Mollo dan keberlanjutan penghidupan, para perempuan masyarakat adat Mollo tidak gentar menghadapi ancaman preman bersenjata sewaan perusahaan tambang marmer PT Teja Sekawan. Perusahaan ini masih ngotot ingin menguasai dan membelah batu-batu besar di pegunungan Molo meski terus mendapat perlawanan dari masyarakat adat Mollo. Setelah pada Agustus lalu perusahaan menggusur kebun warga dengan Ekskavator untuk membuat jalan, pada 2 November baru-baru ini PT Teja Sekawan mulai memotongi gunung batu.
Guna memuluskan niatnya untuk segera memindahkan gunung batu ke pabrik dan diolah menjadi potongan marmer, perusahaan menyewa beberapa preman yang ditugasi menakut-nakuti warga. Preman-preman ini harus berhadapan dengan para perempuan adat Mollo. Para preman bersenjata parang, pisau, dan bahkan pistol mengancam akan membunuh para perempuan itu jika mereka masih tetap duduk di atas batu. Bahkan ketika para perempuan tetap menduduki batu-batu, karyawan Teja Sekawan mulai memotongi batu. Akibatnya, tubuh tiga orang perempuan, yaitu mama Veronika, mama Mince dan mama Marselina diselimuti debu dari batu yang dibor. Para perempuan adat Mollo mati-matian mempertahankan gunung batu dari eksploitasi oleh perusahaan. Mereka berani menghadapi ancaman preman yang disewa perusahaan karena jika gunung batu musnah, maka bencana akan datang. Mulai dari krisis air, tanah longsor, dan serangan hama tanaman. Gunung batu secara alamiah telah membentuk kesatuan ekosistem yang memiliki fungsi hidrologis dan pengendali longsor di kawasan pegunungan tersebut. Situasi di Molo menjadi makin kritis karena tidak ada ketegasan aparat keamanan mengatasi situasi yang kian memanas. Bahkan ketika para preman diketahui membawa berbagai macam senjata, aparat hanya diam dan mengawasi, dan bukannya menangkap mereka. Setiap saat, keselamatan warga terancam oleh tindak kekerasan oleh para preman. Bahkan, sempat terjadi seorang preman hendak menyerang salah seorang perempuan tersebut, namun dapat dihalau oleh mama-mama yang lain serta para laki-laki Mollo. Pejabat setempat, terutama Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), sama sekali tidak peduli atas konflik yang kian mengeras akibat ijin yang dikeluarkan tanpa mempertimbangkan keselamatan warga. Ketika masyarakat mencoba bertemu di kantornya Bupati tidak pernah ada seraya menolak mencabut ijin penambangan yang kontroversial tersebut. Warga yang kemudian menduduki kantor Bupati tidak juga diterima untuk menyampaikan sikapnya. Bupati memilih menghindar daripada bertemu dengan rakyatnya. Pemerintah seharusnya bertindak arif dalam memandang persoalan investasi. Sudah terlalu banyak contoh dan pengalaman rakyat menjadi korban demi investasi dan kenyamanan bisnis pengusaha. Dalam kasus ini nampak sekali bagaimana pemerintah daerah yang mengeluarkan ijin penambangan bertindak sangat tidak bertanggungjawab, bersembunyi ketika konflik pecah. Masyarakat dibiarkan menghadapi preman bersenjata, sementara Bupati yang mengeluarkan ijin penambangan dan menjadi akar masalah justru pura-pura tidak tahu.*** Kontak Media Adi Widianto (JATAM) 021-79181683, 081511655911 Lampiran Kronologi Aksi Tolak Tambang Desa Kuanoel, Kec.Fatumnasi, TTS Pukul 11:30-12:00 WITA Pukul 10:00-11:30 WITA Sembilan orang perempuan sedang menduduki batu di lokasi tambang: Martha Anin, Veronika Bai, Afliana Sau, Vince Oematan, Elma Delasfeto, Mince Taklale, Rince Taklale, Halena Anin dan Maria Taklale. Vince sedang menenun di bawah terpal, sedang yang lainnya duduk di atas batu dan menyanyi. Tiba-tiba muncul Patje Lona (preman lokal yang bekerja sebagai Pimpro PT.Teja Sekawan di Kuanoel) bersama Neri Oematan (salah satu preman lokal yang bekerja), Sam Oematan, Ody Sila, Edi Nifu dan orang-orang Jawa yang menjadi pekerja PT yang sudah mengenakan seragam kerja lengkap, termasuk helm proyek dan masker. Mula-mula mereka isi BBM di mesin bor, tarik selang dari pompa air. Lalu Ody Sila meminta permisi pada mama-mama yang duduk di batu karena mereka mau mulai kerja,"Tolong buka terpal, kami mau kerja." Tapi mama-mama tidak jawab. Mereka tetap tarik selang ke atas batu, pasang dua aliran: ke arah batu yang diduduki mama-mama dan batu yang diduduki Veronika Bai. Mereka mulai bongkar terpal sendiri, saat tarik bambu yang jadi penyanggah terpal hampir bambu itu mengenai mama-mama yang duduk di situ. Terpal-terpal tersebut pun terobek. Kemudian, mereka juga bongkar patok-patok tenun. Mama-mama tetap diam. Setelah itu dua orang pekerja (Neri Oematan dan Okran Mnune) mulai kerja di batu yang diduduki Veronika. Veronika tetap tidak bergerak. Mereka langsung pasang bor dan kerja di batu itu. Sedangkan preman yang bawa parang dan Patje berkeliling sambil mengancam dengan kata-kata dan gerakan yang seakan-akan hendak mengeluarkan parangnya. Sedangkan yang lainnya hanya duduk-duduk di atas batu. Pukul 11:30-12:00 WITA Aleta Baun tiba di lokasi. Patje yang sedang berkeliling mengeluarkan pistolnya dan menyuruh pekerja untuk tetap bekerja,"Kerja! Ini hari mau mati, mati! Karena kita sudah punya senjata." Aleta melihat bahwa 3 orang mama: Veronika, Mince dan Marselina, sudah dipenuhi debu dari pengerjaan bor batu. Aleta menegur pekerja untuk berhenti bekerja sebab mama-mama itu sama sekali tak terlindung dari debu. Tapi Patje menyuruh pekerja untuk tetap kerja sambil menghardik Aleta,"Kau punya hak apa di sini?" Para pekerja dengar komando Patje dan tetap kerja. Aleta coba menarik tangan Okran, Patje datang dan mulai mengancam untuk memukul Aleta. Katanya,"Untung kamu perempuan!" dan mengepalkan tangan ke muka Aleta, mengancam untuk pukul. Tanpa disadari Aleta, salah seorang preman berdiri di belakang Aleta dan hendak mencabut parangnya. Serentak semua perempuan yang ada di situ berteriak dan menyerbu preman tersebut. Preman yang berasal dari Amanatun itu lari dan sejak saat itu ia menghindar dari lokasi. Sam Oematan ganti mengancam Aleta dan hampir memukul Aleta. Pada saat itu laki-laki mulai berdatangan. Pukul 12:00-15:00 WITA Oleh jumlah massa yang terus bertambah banyak, keadaan mulai kacau. Pekerja menghentikan pengeboran. Ety Anone yang datang dan melihat Patje menegurnya,"Patje, kenapa kamu kerja hari ini?" tapi Patje mengusirnya. Ety kemudian mendatangi Neri Oematan,"Neri, mulai hari ini saya tidak lihat kau kerja tanah di belakang sini. Saya atoin amaf berhak!" tapi Neri membantah dan menghina Ety sebagai perempuan yang tidak punya hak. Mereka bertengkar hingga Neri meninggalkan Ety. Ety lalu bertemu Ody Sila dan Patje yang bertanya tentang Aleta. Ety mencari Aleta untuk bersama-sama menghadapi Ody dan Patje. Pada saat bertemu Aleta, Ety mengajaknya menemui Patje tapi Aleta menolak. Bersama perangkat aksi yang lain menenangkan massa. Saat itu, para perempuan yang ada di lokasi mulai melancarkan protes keras hingga mengeluarkan payudara mereka berhadapan dengan alat tajam dan pistol yang ditunjukkan oleh para preman dan pekerja. Anggota Linmas bekerja keras dan pada akhirnya berhasil meredakan situasi. Pada saat reda itulah Atri Oematan dan Nathan Taklale (Koordinator Linmas) datang dan mengajak Aleta menemui para pekerja dengan mengatakan bahwa para pekerja ingin berdiskusi baik-baik dengan Aleta. Menurut Linmas, Patje berkeinginan untuk menghentikan kerja tambang sementara sampai senin berikut, sambil menunggu keputusan bupati. Belum sempat Aleta diberitahu, Lodia Oematan menyela dan membatalkan pemberitahuan itu. Belakangan diketahui bahwa sebenarnya Patje pada saat itu sedang bersiap untuk langsung menangkap, mengikat dan mencelakakan Aleta. Sebab tanpa Aleta massa dengan sendirinya akan pulang. Sehingga Aleta memilih untuk kembali ke tenda. Deki Bai yang kebetulan duduk di atas batu besar dan melihat Aleta, ikut diancam. Patje mengancam akan memukulnya. Selain Aleta dan Deki, Veronika Bai yang tetap duduk di atas batu yang sedang dibor juga mendapat ancaman. Patje bahkan menunjukkan pistol padanya sambil mengancam. Mama Mince yang duduk di batu yang lain juga ikut diancam. Kepadanya ditunjukkan parang. Pukul 15:30-17:00 WITA Kondisi tenang hanya berlangsung sebentar. Pukul 15:30 semua mesin mulai dihidupkan kembali. Excavator, bor dan pompa air dibunyikan serempak. Massa menegur mereka untuk berhenti, tapi tidak diindahkan. Mama-mama mendekati para pekerja dan menegur mereka untuk berhenti, tapi mereka tidak berhenti kerja. Pada saat itu polisi datang. Pekerja terus bekerja sedangkan preman mondar-mandir tapi tidak lagi menunjukkan alat tajam maupun pistol mereka. Lodia sempat terkena alat bor yang diangkat oleh Okran saat ia berusaha menegur Okran untuk berhenti. Akibatnya bibir Lodia terluka. Di luar lokasi, Dominggus Soares (suami Veronika Bai) meninggalkan kerumunan dengan maksud membeli rokok di dekat Gereja Tailkoti. Ia bertemu Ody Sila di tengah jalan yang kemudian mengancamnya. Polisi kemudian menghentikan pekerjaan bor batu dan meminta semua orang untuk berkumpul di lokasi tenda. Tapi para pekerja dan preman tidak mau turun. Mereka tetap di base camp mereka. Sedangkan Kasat Reskrim Polres TTS, Yeter Selan, mulai memimpin pembicaraan dengan massa aksi. Sejak saat itu tidak ada lagi proses kerja dilakukan oleh para pekerja. Pukul 17:00-17:30 WITA Setelah selesai pembicaraan di lokasi tenda, polisi meninggalkan Kuanoel kembali ke Soe. Dari pihak pekerja, hanya Patje Lona yang kembali ke Soe, sedangkan pekerja dan preman lainnya (kurang lebih 19 orang) tetap berada di base camp. Kupang, 06 November 2006 Divisi Advokasi PIKUL Kupang lihat juga: http://rakyatmollo.blogspot.com |