Pulau Gag di Papua, luasnya hanya 9200 hektar, tapi terletak di gugusan Kepuluan Raja Ampat, yang dikenal memiliki keragaman hayati laut terkaya di dunia. Disini, dijumpai 450 jenis karang, 950 jenis ikan karang serta lebih dari 600 jenis molusca berbagai ukuran. Sekitar 64% keragaman terumbu karang dunia ada disini. Dua tahun lalu, kawasan ini diusulkan menjadi Kawasan Warisan Dunia.
Pulau Gag, salah satu situs deposit nikel laterit paling kaya di dunia. Pada 1998, BHP-Billiton menandatangani Kontrak Karya dengan pemerintah Soeharto, yang represif, untuk mendapat deposit Nikel - bersama PT Antam Indonesia. Mereka mendirikan PT Gag Nikel, konsesinya meliputi seluruh pulau dan perairan disekelilingnya. Perusahaan akan menambang terbuka, menggali 660 ribu ton bijih perhari dan membuang 627 ribu ton limbah tailingnya ke laut. Pulau Gag teracam tenggelam.
Meski berstatus hutan lindung, dengan jenis tanah yang sangat peka erosi, PT Gag Nikel ngotot menggali. Topografi dipulau ini juga rentan longsor, sebab 27 persennya berlereng curam hingga sangat curam, belum lagi Curah hujan disana cukup tinggi. Bisa dipastikan kelak, terumbu karang dan keragam hayati laut lainnya rusak akibat sedimentasi.
Kontrak Karya PT Gag Nikel ditandatangi sepihak, tanpa meminta sedikitpun persetujuan masyarakat disana. Sepanjang 1999 – 2004, BHP-Billiton bersama perusahaan tambang multinasional lainnya, menekan pemerintah Indonesia merubah UU Kehutanan No 41 tahun 1999, yang melarang tambang terbuka di hutan lindung. Tindakan ini diprotes publik di berbagai daerah di Indonesia. Waktu itu, perusahaan bahkan mengancam akan membawa pemerintah Indonesia ke arbitrase internasional, jika melarang Pulau Gag di tambang terbuka. Akhirnya, tekanan ini berhasil, Tahun 2004, sebuah UU baru dikeluarkan, yang salah satunya meloloskan tambang terbuka PT Gag Nikel.
Konflik juga makin subur sejak PT Gag Nikel muncul. Diantaranya, 24 April lalu, masyarakat menyegel pintu kantor perwakilan perusahaan di Sorong. Mengingat Papua Barat adalah kawasan konflik dan kekerasan militer, diperkirakan kehadiran PT Gag Nikel akan memperburuk kondisi HAM di Papua Barat.
Di belahan Indonesia lainnya – Kalimantan Tengah, tambang batubara BHP-Billiton mengalih fungsi sedikitnya 65.858 ha huta lindung, yang menjadi hulu-hulu sungai-sungai utama disana. Perusahaan mengirimkankan batubaranya untuk dibakar dalam pembangkit listrik, yang menyumbang emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.
Pada pertemuan pemegang saham, pagi ini jam 10.30 waktu setempat di Queen Elizabeth II Conference Centre, Westminster Inggris, JATAM dan WALHI menuntut BHP-Billiton menghentikan tambangnya. Berhenti menghancurkan hutan lindung dan pulau kecil Indonesia, baik di Kalimantan tengah dan Papua Barat, serta belahan dunia lainnya. Dan meminta para pemegang saham berhenti mengambil keuntungan dari penghancuran tersebut dan pemerintahan yang buruk. [ ]
KontaK Media:
Luluk Uliyah 0815 9480 246, Teguh 08137189 4452