Masih ingat kasus hutan Poboya, yang sepuluh tahun lalu akan ditambang
PT Citra Palu Mineral (CPM) milik Rio Tinto dari Inggris? Dan batal
karena ditolak seluruh komponen kota Palu. Tambang emas ini hanya 7 km
jaraknya dari tengah kota. Saham perusahaan akhirnya dijual kepada
Newcrest Mining Group/Newcrest Mining Ltd .Tiga tahun lalu, Bumi
Resources milik Grup Bakrie membeli 99,99% saham tersebut.
PT CPM menandatangai Kontrak Karya generasi keenam dengan luas konsesi 561.050 Ha, berlokasi di Palu, Sulawesi Tengah. Setelah direlinquish, kontrak kerja ini terdiri atas enam blok. Prospek Poboya, blok 1, merupakan tahap eksplorasi yang paling maju dengan menyelesaikan program pemboran tahap pertama. Bumi melaporkan kandungan emas sebesar dua juta ons di kawasan tersebut.
Lokasi tambang terletak di wilayah konservasi yaitu Taman Hutan Raya Palu. Gubernur Sulawesi Tengah sebelumnya, Prof. (EM) H. Aminudin Ponulele, pernah menutup lokasi pertambangan tersebut dengan alasan berada di wilayah hutan lindung. Namun rupanya gubenur baru tak peduli dengan fungsi hutan. HB. Paliudju, memberi lampu hijau kepada perusahaan. Alasan penambangan emas ini akan mendukung program percepatan pembangunan Sulawesi Tengah.
PT Bumi Resources Tbk (Bumi) menyatakan akan mengeruk emas kawasan Pobaya, Palu, pada 2011. Senior Vice President Investor Relations Bumi, Dileep Srivastava mengatakan, Bumi sebenarnya telah menemukan cadangan emas sekitar dua juta ons. Informasi inilah yang gencar dikampanyekan Bumi Resource hingga harga sahamnya terus melambung. Dan akhirnya terkena imbas Krisis Keuangan Global awal Oktober ini. Dan Ironisnya, Bumi tetap mengkampanyekan potensi emas Poboya sebagai bahan 'jualan' mendongkrak harga sahamnya yang terus anjlok hingga hari ini. Bahkan warga Palu tidak tahu bahwa tanah mereka dijadikan barang dagangan untuk menumpuk kekayaan grup Bakri lewat lantai bursa.
Sementara di lapang., masyarakat Poboya mulai resah kembali dengan rencana penambangan ini. Mereka tahu, tambang emas akan menerima dampak langsung resiko pencemaran sumber air dan perusakan lingkngam, jika tambang diteruskan. Sebab, titik pengeboran terletak di hulu Daerah Aliran Sungai Poboya, yang jadi pusat aliran anak-anak sungai yang bermuara di Teluk Palu. Sumber air minum warga Palu di hulu, dan teluk palu di hilir terancam pencemaran. Selain sumber air minum, kawasan ini juga sumber air lahan pertanian bawang dan jagung, komoditi unggulan Kota Palu.
Rupanya, sepak terjang grup Bakrie telah menggurita di Sulawesi Tengah, khususnya sejak Abu Rizal Bakrie – anggota utama keluarga Bakrie, berkuasa di pemerintahan. Sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), Abu Rizal bakrie mendorong percepatan pembangunan Sulawesi Tengah, ia mengucurkan dana Rp 50 Milyar Rupiah – dari Rp 200 milyar yang direncanakan untuk Jalan Poros Mamboro-Parigi. Jalan ini menghubungkan Kota Palu dan Parigi Moutong, melewati Hutan Lindung, yang masuk dalam areal Konsesi PT. CPM l. Sudah jadi rahasia umum, jika ingin membuka hutan, bangunlah jalan, maka semuanya akan mengikuti. Ini rupanya strategi Bakrie.
Sebenarnya, jalur yang akan dibuka, tak jauh dari jalan pertama yang melintasi Kebun Kopi pada ketinggian 600 mdpl, yang masih berfungsi baik saat ini. Tapi maraknya pembalakan hutan, membuat jalan ini bermasalah ketika musim penghujan tiba. Anehnya, pemerintah daerah justru ngotot agar jalur baru Mamboro-Parigi, pada ketinggian jalur itu 1.200 mdpl dan rentan segera dibangun. Dicurigai, ini jalan ini akan jadi pintu masuk tambang emas milik Bakrie di Poboya yang sudah 10 tahun ini ditolak. Akan sangat disayangkan keputusan Menhut untuk pelepasan kawasan Hutan Lindung yang akan dilintasi jalan poros Mamboro-Parigi tersebut.