HOME arrow KAMPANYE arrow Arsip 2006 arrow SOUTH TO SOUTH FILM FESTIVAL, Dari Selatan untuk Selatan, 23 Januari 2006
SOUTH TO SOUTH FILM FESTIVAL, Dari Selatan untuk Selatan, 23 Januari 2006 PDF Print
on Friday, 06 July 2007

Views : 1639    


Siaran Pers JATAM - KELIR Nusantara

Jakarta;. Emas, intan dan bahan tambang lainnya yang berkilau abadi dan mahal, lebih mudah kita jumpai, dibanding suara-suara serta potret dari lokasi terpencil dan tak terdengar dimana emas dan minyak berasal. Di StoS Film Festival, JATAM dan KELIR Nusantara pada Rabu hingga Jumat minggu ini (25-27 Januari 2006) akan menggelar South to South Film Festival yang menyuguhkan beberapa film dokumenter tentang pertambangan serta pameran foto dengan tema manusia dan lingkungan. Sektor tambang akhir-akhir ini banyak disorot terkait dengan kasus kekerasan dan kerusakan lingkungan. Namun, tanpa pretensi untuk menghakimi, Festival Film ini ingin membuka lebih banyak informasi di balik dunia pertambangan lewat hasil karya para filmmaker yang mendokumentasikan pertambangan dari berbagai benua.
 

Peru, Papua Nugini, Thailand, juga Indonesia adalah negara-negara berkembang di belahan selatan bumi yang kaya sumber daya alam seperti hutan, keragaman hayati, serta bahan tambang. Banyak negara-negara utara (Amerika, Kanada, dan negara-negara Eropa) sejak jaman dahulu mengadu untung berjualan kekayaan alam dari negara-negara selatan. Sejak jaman itulah sejarah dunia akan eksploitasi sumber daya alam, termasuk bahan tambang, oleh perusahaan multinasional berlangsung di negara-negara selatan.

Pertanyaan menggelitik yang haus akan jawaban adalah ”apakah seluruh cerita pengambilan sumber daya tambang nasional itu telah membawa kesejahteraan bagi rakyat negara bersangkutan?” Berbagai bukti justru menunjukkan sebaliknya, negara-negara kaya sumber daya tambang justru merupakan negara termiskin dengan jumlah utang luar negeri yang membengkak dan membebani anggaran pemerintah. Pada orde berikutnya, subsidi bagi rakyat yang dipangkas karena dianggap membebani keuangan negara.

Pada dimensi ruang yang lebih sempit, masayarakat setempat dimana proyek tambang berlangsung, yang mestinya mendapat limpahan rejeki atas kandungan mineral berharga di tanah miliknya, justru hidup serba kekurangan. Tak jarang mereka sendiri malah jadi korban, tersingkir dari ruang hidupnya. Di Kongo dan Zaire, masyarakat lokal menjadi korban perang saudara yang memperebutkan tambang intan.

Tak jarang, pemerintah dan rakyatnya sendiri dibuat berhadap-hadapan dalam konflik akibat beroperasinya sebuah perusahaan tambang. Di Papua Nugini, sebuah pulau diblokade oleh tentara bayaran pemerintah karena penduduknya menolak beroperasinya tambang Australia yang mencemari lingkungan mereka.

Apakah seluruh cerita perburuan bahan tambang memang selalu berhias kekerasan dan membawa korban? Film akan menjadi media utama untuk menjawab hal tersebut di StoS Film Festival, dari selatan untuk selatan.



   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Warga korban Lapindo dari Tim 16 Perumtas Sidoarjo terpaksa menerima pembayaran dengan cara diangsur  30 juta per bulan, sementara ribuan korban lainnya tidak jelas nasibnya

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?