| on Wednesday, 03 December 2008
|
Views : 3250  |
Oleh : Em. Lukman Hakim
Sore itu angin berhembus sepoi melambaikan dedaunan menghijau di lereng-lereng Gunung yang melingkari Pantai Pancer. Mulai dari Gunung Tumpang Pitu, Gunung Sumber Salak, Gunung Macan, Gunung Jatian, dan Gunung Wedi Ireng berderet membentuk setengah lingkaran. Bentangan gunung ini seoalah ingin mengabarkan pada dunia, tentang keseimbangan kosmos dan rahasia penciptaan alam. Kaki gunung Tumpang Pitu menancap kokoh disebelah timur pantai Pancer, sementara kaki Gunung Wedi Ireng di sebelah barat. Keduanya tak bergeming sedikitpun menghadapi terjangan ombak pantai selatan yang menghentak dahsyat.
Sejak bulan Juni sampai September lalu, Angin Tenggara telah usai bertiup, disusul dengan angin Barat Daya yang biasanya dimulai pada bulan Januari hingga Maret. Pada tiga bulan ini, nyaris tak ada satupun nelayan yang berani melaut. Inilah bulan pertemuan antara angin dan ombak ditengah laut yang siap menggulung setiap kapal yang melintas. Inilah musuh utama yang hingga kini belum sanggup ditaklukkan para nelayan.
Rumus ini ternyata tidak berlaku bagi para nelayan karang. Nelayan kecil yang biasa mencari kerang jenis eksport sepanjang bibir pantai. Mereka bekerja tanpa batas musim, seperti halnya para penyelam yang memburu jenis udang lobster dijarak 50 m dari bibir pantai. Keduanya adalah nelayan karang yang menggantungkan hidupnya pada hewan laut yang terlelap pulas disela tetumbuhan karang.
Kekayaan Terpendam
Sore itu nelayan karang bersiap untuk beranjak pulang, mengemasi barang dan hasil tangkapan berupa Kerang Simpeng yang berkisar antara 3-5 Kg setiap harinya. Para nelayan menjual kerang jenis eksport ini dengan harga Rp. 120 ribu per/ Kg. pada beberapa pengepul yakni; Pak Mursid (Desa Silir Baru), Pak Dibul (Dusun Pulau Merah) dan Paochen (Dusun Pancer).
Dengan menggunakan peralatan sederhana berupa obeng, sejenis pengkit dari besi untuk mencongkel kerang pemalu yang gemar bersembunyi disela tetumbuhan karang, para nelayan pinggiran dengan mudah mengumpulkan buruannya. ”ya mas ini lagi siap-siap untuk pulang. Lumayan hari ini agak banyak sekitar 5 Kg simpeng yang saya dapat” ungkap Suparno (42) salah seorang nelayan pinggiran warga Dusun Pulau Merah (Kamis,20/11/08).
Menurut Suparno sekitar 50-an warga Pancer dan Pulau Merah kesehariaanya berprovesi sebagai nelayan pinggiran. Bahkan terkadang beberapa orang dari Pesanggaran datang untuk mencari Simpeng di perairan teluk ini. Saat datang musim angin Barat Daya, banyak para nelayan ikan yang beralih provesi menjadi nelayan pinggiran. ”Biasanya mereka yang menjadi nelayan pinggiran itu yang tidak punya lahan pertanian, kalau yang punya ya menggarap sawah” ujarnya.
Dari hasil pendapatan Simpeng, Suparno mengaku lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Setidaknya antara Rp. 150-300 ribu sanggup ia kumpulkan setiap hari.
Sebagai seorang pendatang yang baru 15 tahun menetap di pulau merah, warga asal Sendang Biru Malang ini mengaku belum mempunyai modal yang cukup untuk membuat perahu. Ia berkeyakinan, suatu hari nanti pasti dapat membuat perahu, dari hasil menjual Simpeng yang ia sisihkan setiap hari. ”Walaupun kecil, pengennya punya perahu sendiri mas. Kalau harus menjalankan perahu orang lain gak cukup. La wong sekarang solar mahalnya minta ampun” pungkasnya.
Sementara itu Bigul, Tukijan, dan Paino warga Dusun Pancer yang kesehariannya berprovesi sebagai penyelam mengaku bersyukur atas kekayaan teluk Pancer. Walaupun mereka harus bekerja saat orang terlelap dan pulang esok hari, namun pendapatan menggiurkan yang diperoleh diakuinya menjadi pendorong untuk berani menyelam hingga 50 meter kedasar laut. ”Untuk 1 Kg Udang Lobster merah harganya mencapai Rp. 120 ribu, Udang Lobster Kepet Rp 175 ribu, dan yang paling mahal itu Udang Lobster Macan. Harganya bisa mencapai Rp. 350 ribu per Kg.” ungkap Pak Bigul sembari mempersiapkan perahu yang digunakan untuk menyelam.
Dengan bermodalkan perahu dan peralatan selam berupa kompresor (sejenis alat yang biasanya di gunakan penambal ban untuk menambah angin kendaraan), selang sepanjang 100 meter, obeng, karung, dan senter selam, mereka menjalankan provesinya sebagai penyelam. ”setelah kapal berada di tempat, kami langsung turunkan jangkar, dan kita hanya menyusuri tali jangkar itu. Dua orang menyelam dan satu berjaga-jaga di atas” ungkap Tukijan.
Menurut Tukijan, sekalipun dibibir pantai banyak sekali dijumpai Simpeng, namun dirinya tidak puas sebab diarah agak ke tengah atau sekitar 50 meter dari bibir pantai biasanya banyak dijumpai simpeng yang ukurannya lebih besar dan aneka udang jenis Lobster. ”Kalau sudah di dalam hawanya dingin sekali mas, banyak ikan hias, karang, ya kayak ditivi-tivi itu” kenangnya
Dengan alat sederhana itu para penyelam bisa berjamjam menunggu kumpulan udang Lobster dan kerang sampai lelap tertidur. Bahkan tak jarang kendang telinga mereka kemasukkan air, namun dengan cepat dan trik sederhana mereka dengan mudah mengatasi. Setelah saat dinanti tiba mereka bergerak siap mengeksekusi kumpulan lobster dan simpeng. ”ya kita tinggal masukkan ke karung mas” ungkapnya dengan senyum sumringah.
semula simpeng dan lobster banyak terdapat di perairan Bangsong Pantai Lampon. Namun setelah banyak penyelam yang mengambil disana mereka bertiga pindah ke Pulau Mustika. Di perairan ini dikenal sarang kerang dan udang Lobster untuk beranak pinak.
Menurut penuturan mereka, berpindahnya lokasi perburuan Lobster dan Simpeng dikarenakan perkembangan kedua hewan eksport ini relatif lama, sekitar tiga tahun pasca perkembangbiakan baru dapat dipanen.
”Malah kadang ada teman saya itu yang sampai ke pantai Kremisan dan Bande Alit Jember. Mereka bisa sampai tiga hari disana. Tapi hasilnya memang banyak. Sekitar 100 Kg mereka dapat” ujarnya.
Ketika ditanya tentang rencana pembuangan tailing ke laut Pancer oleh PT Indo Multi Niaga (IMN) salah satu perusahaan emas yang kini melakukan eksplorasi di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP) dengan geram bercampur khawatir dia menuturkan kegusurannya. Bahkan Ia mengaku berada di baris depan, saat demosntrasi besar-besaran yang beberapa waktu lalu digelar nelayan dari Pancer sampai Muncar untuk menuntut diberhentikkannya operasi tambang. ”kalau limbah emasnya di buang kelaut ya sudah tamat riwayat nelayan sini, apalagi nelayan karang yang menggantungkan hidupnya dari hewan-hewan karang, ya pasti menjadi korban pertama” pungkasnya.
Pada situasi inilah kearifan pemerintah dibutuhkan, untuk mempertimbangkan berbagai ijin eksploitasi pertambangan yang dikeluarkan. Setidaknya nasib nelayan karang di sepanjang Pantai Pancer, Lampon, Grajakan, Rajegwesi, dan Muncar Banyuwangi dipertaruhkan.
Suara lirih para nelayan karang itu adalah jeritan sesungguhnya dari ketidaksanggupan untuk menentukan nasib dan cara hidupnya sendiri. Mereka adalah nelayan kecil yang kini hidupnya selalu dalam bayang-bayang ketakutan atas keberadaan perusahaan tambang. [ ]
|
|
|