HOME arrow KAMPANYE arrow Seruan Aksi arrow Dukung! Stop Gusur Nelayan, Laut Untuk Keadilan Iklim
Dukung! Stop Gusur Nelayan, Laut Untuk Keadilan Iklim PDF Print
on Sunday, 10 May 2009

Views : 1882    


Dukung Seruan aksi Aliansi Manado, ditunggu hingga 13 Mei 2009

Kami meminta dukungan kawan-kawan dengan menyantumkan namanya mendukung surat ini. Kami akan mempublikasikan surat ini dan menyampaikannya kepada pihak-pihak terkait, termasuk perwakilan negara-negara peserta WOC-CTI dan publik internasional. Kami tunggu dukungan kawan-kawan hingga Rabu, 13 Mei 2009, jam 12 malam.  Kirim dukungan anda kepada: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Informasi tentang Aliansi Manado, buka www.jatam.org/aliansi-manado

Draft Surat:

Kepada  Yth.

Delegasi Negara-negara Peserta WOC – CTI, 2009
Delegasi Lembaga-lembaga Nasional dan Internasional Peserta WOC – CTI , 2009

Dengan Hormat,

Climate Change Impacts to Ocean and The Role of Ocean to Climate Change & Wheather Crisis, tema yang didengungkan World Ocean Conference (WOC), 11-15 Mei 2009, di Manado, Sulawesi Utara Indonesia, tercederai sejak awal. Sebab kritik dan koreksi terhadap Forum internasional ini dibungkam sejak awal. WOC-CTI diragukan mampu menyelamatkan nasib nelayan, laut dan mendukung keadilan iklim.

Amerika Serikat, Australia bersama 120 perwakilan negara-negara akan membahas dan meramu rencana aksi untuk laut dan perubahan iklim di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).  Coral Triangle, merupakan desain wilayah konservasi yang dirancang LSM konservasi (TNC, CI, WWF dan lainnya) melintasi teritorial enam negara: Malaysia, Indonesia, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Papua Nugini dan Filipina. Luas keseluruhan mencapai 75.000 km2 dan menyimpan 3 ribu atau 53% jenis terumbu karang dunia dan 6 ribu jenis ikan karang. Selama ini, perputaran uang dari kekayaan alam diprediksi mencapai US$ 2,3 trilyun setahun. 

Sebuah kesepakatan pemanfaatan kekayaan diatas bertajuk “Manado Ocean Declaration” di bawah bendera mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta proyek Coral Triangle Initiative (CTI) akan ditandatangani di  WOC, 15 Mei 2009. 

Kami, Aliansi Manado, yang merupakan Aliansi para nelayan dan masyarakat sipil dunia menyampaikan keprihatinan dan memperingatkan perwakilan negara-negara dan LSM-LSM internasional peserta WOC-CTI, karena akan beresiko:

Pertama, Mengancam kedaulatan, khususnya hak komunitas pesisir dan nelayan yang akan terkena dampak langsung. Mereka tidak pernah mendapatkan informasi apalagi ditanya pendapatnya mengenai WOC-CTI. Padahal kesepakatan-kesepakatan tersebut berpengaruh  penting terhadap nasib mereka ke depan.

Kedua, WOC - CTI mengarahkan pada pasar bebas konservasi. Terakhir, terbukti dari perluasan konservasi laut Sawu dari 40 ribu ha menjadi 400 ribu ha, dan rencananya menjadi 4 juta hektar, yang akan diumumkan pada ajang WOC. Inilah hasil kerjasama The Nature Conservancy (TNC) beserta Departemen Kelautan dan Perikanan. Mereka bahkan melarang masyarakat Bajo Lamalera menghentikan tradisi mereka berburu tradisonal paus sejak April 2009. 

Indikasi pasar bebas konservasi ini terkait dengan pengembangan program BBOP-Business and Biodiversity Offsets Programme, kerjasama WWF, TNC, CI dan lainnya dengan lembaga keuangan internasional dan perusahaan tambang dan migas, macam Shell, Rio Tinto, Newmont, dan Anglo American. Program ini akan menjadi pemakluman pembongkaran kawasan konservasi menjadi kawasan pengerukan bahan tambang lewat skema kompensasi keragaman hayati (biodiversity offset).  

Ketiga, agenda-agenda WOC-CTI mengabaikan permasalahan mendasar degradasi pesisir dan laut, polusi dari limbah tambang, penangkapan ikan ilegal dan merusak. 

Kami mempertanyakan kredibilitas WOC -CTI mengurangi dampak perubahan iklim karena keterlibatan AS sebagai kontributor emisi karbon terbesar, yang menolak menandatangani Protokol Kyoto.

Kami mempertanyakan legitimasi WOC - CTI yang mengabaikan suara-suara nelayan tradisional dan masyarakat sipil. Kami menuntut pemerintah Indonesia menghentikan upaya membungkam Aliansi Manado menyuarakan pendapat dan kritiknya terhadap WOC - CTI.

Kami bersama Aliansi Manado menyerukan dan menuntut WOC-CTI tidak menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang membahayakan nelayan dan masyarakat pesisir, serta menuntut ditegakkannya keadilan perikanan dengan empat prinsip.  
1.    Mengakui dan melindungi wilayah kelola nelayan tradisional
2.    Memenuhi hak nelayan tradisional sebagai warga negara, beserta haknya menangkap ikan, hak menerapkan budaya & tradisi, hak untuk memperoleh asuransi keselamatan di laut
3.    Memulihkan fasilitas perikanan tradisional dan melibatkan perempuan nelayan dalam aktivitas perikanan  
4.    Menjamin sumberdaya kelautan dan perikanan demi kesejahteraan masyarakat, baik produksi, distribusi dan konsumsi yang adil dan setara 
 

Kami mengingatkan bahwa solusi keliru yang ditawarkan WOC-CTI dalam bentuk perdagangan karbon dan carbon offset tak berarti, bahkan beresiko membahayakan rakyat dan lingkungan.
 
Hormat Kami,

1.    Berry Nahdian Furqan, WALHI/ FoE Indonesia, Jakarta
2.    Siti Maemunah, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) – Jakarta
3.    Riza Damanik, Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) – Jakarta
4.    Rignolda Jamaludin, Perkumpulan KELOLA, Manado Sulawesi Utara
5.    Yul Takaliwang, Yayasan Suara Nurani (YSN), Manado Sulut
6.    Revaldi Koleangan, Aliansi Masyarakat menolak Limbah Tambang (AMMALTA), Manado – Sulawesi Utara
7.    Yahya La Ode, Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Utara, Manado Sulawesi Utara
8.    Chalid Muhaamd, Institut Hijau Indonesia – Jakarta
9.    Deddy Ramanta, Komite Persiapan Organisasi Nelayan Nasional Indonesia (KPNNI)
10.    Ruddy Hanniko, Solidaritas Nelayan Arakan (SINAR) – Sulawesi Utara
11.    M. Karim (PKP2M)
12.     Pepe (Southeast Asia Fish for Justice, SEAFish)
13.    ................
 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

1 gram emas didapatkan dengan membuang 2.100 kg limbah batuan dan tailing, dihasilkan 5,8 kg emisi beracun logam berat, timbal, Arsen, Merkuri dan Sianida 

Login Form

AGENDA









logo_saung_125x125.gif

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


pesona_pagiku


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.

 

Anda ingin mendapatkan buku ini?