HOMEPUBLIKASIArtikel Pembungkaman Suara Nelayan Tradisional Mendapat Perhatian Dunia
Pembungkaman Suara Nelayan Tradisional Mendapat Perhatian Dunia
on Tuesday, 12 May 2009
Views : 1745
(Aliansi Manado, 12/05) Penangkapan dua aktivis WALHI dan pengusiran
paksa 16 aktivis SEAFISH Philipina kemaren hingga dini hari tadi,
mendapat perhatian dunia. Dua organisasi non pemerintah ternama Forest
People Programmed an Friends of The Earth Internasional, kemarin
(11/05) berkirim surat kepada presiden SBY dan jajaran aparat keamanan
Indonesia. Mereka prihatin terhadap memburuknya hak-hak kebebasan
berkumpul dan berpendapat di Indonesia.
Dua Ornop internasional ini mengatakan mengenal para peserta pertemuan Forum Keadilan Kelautan dan Perikanan (FKKP) sebagai pembela hak-hak masyarakat sipil dan lingkungan. Para aktivis inilah yang selama ini banyak menyuarakan hak-hak nelayan tradisional, perlindungan dan keberlanjutan pengelolaan pesisir dan sumber daya laut untuk sumber kehidupan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Mereka mendukung upaya FKKP yang mengajak publik dan WOC-CTI memperhatikan hak-hak nelayan tradisional, khususnya yang menjadi korban pencemaran limbah yang dibuang ke laut oleh perusahaan tambang skala besar. Mereka prihatin agenda tersebut tidak menjadi agenda utama WOC-CTI.
Itulah sebabnya, Dr. Maurizio Farhan Ferrari, Environmental Governance Coordinator Forest Peoples Programme, menyampaikan prihatin terhadap upaya pelanggaran HAM yang dilakukan pihak keamanan Indonesia kepada peserta FKKP. Ia menyatakan bahwa kejadian ini mencoreng reputasi WOC-CTI.
Hal senada disampaikan Pimpinan tertinggi Friends of the Earth International (FoEI), Nnimmo Bassey, yang menyatakan penyesalannya melihat upaya represi yang dilakukan terhadap peserta FKKP dan prihatin terhadap kondisi kebebasan berkumpul dan berpendapat. FoEI adalah organisasi lingkungan terbesar didunia, dengan anggota individu berjumlah lebih 2 juta orang, juga organisasi masyarakat sipil yang tersebar di 77 negara.
Kampanye memperjuangkan penyelamatan Kalimantan dari eksploitasi dan ekstraksi aset-aset alam yang membabi buta dan mengancam keselamatan Warga Kalimantan dalam jangka panjang.
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.