| on Tuesday, 12 May 2009
|
Views : 2432  |
Peserta melakukan aksi duduk diam depan Mapolda Kalimantan Selatan. Mereka protes
terhadap tindakan aparat kepolisian Manado, yang dua hari lalu (11/05)
menangkkap dua aktivis Walhi, bersamaan ajang WOC-CTI. Aksi diam adalah
simbol pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat, dan rasa duka atas
matinya kepekaan penguasa terhadap suara-suara rakyat.
***
Siang tadi, 12.15 siang, sekitar 20 aktivis berbagai organisasi di Kalimantan Selatan melakukan aksi solidaritas di depan Mapolda Kalimantan selatan. Mereka adalah WALHI Kalimantan Selatan, Dewan Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Mapala Graminea, Mapala Justitia, Kompas Borneo Unlam, LK3, Yayasan Cakrawala Hijau, dan beberapa elemen kemahasiswaan lainnya.
Peserta melakukan aksi duduk diam depan Mapolda sebagai tanda protes terhadap tindakan aparat kepolisian Manado, yang dua hari lalu (11/05) menangkap dua aktivis Walhi di Manado, Berry N Forqan (Direktur EN Walhi) dan Erwin Usman (Kepala Dept Penguatan Regional). Aksi diam adalah simbol pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat, dan rasa duka atas matinya kepekaan penguasa terhadap suara-suara rakyat.
Aksi sempat terhenti akibat guyuran hujan di kota Banjarmasin. Tapi masa aksi kembali berkumpul setelah hujan reda. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Darah Juang. Mereka juga melakukan orasi, mengecam penangkapan aktivis Walhi.
Achmad Rozani Wakil Ketua Dema Unlam mengatakan penangkapan tersebut adalah tanda matinya demokrasi di negeri ini. Sementara, Rakhmad Mulyadi menjanjikan bahwa Walhi Kalsel tak akan pernah berhenti berjuang walaupun dalam penjara . Mereka menyesali tindakan penangkapan oleh aparat keamanan.
Kapolda Kalsel Brigjen. Untung S. Radjab akhirnya meminta bertemu dengan peserta aksi, dan mendengarkan maksud kedatangan para pengunjuk rasa.
|
|
|