Forum JATAM
Saturday, 30 January 2010

Sungguh tragis nasib pulau Kalimantan. Setelah sebagian besar hutannya dirusak, kini ganti dikeruk habis-habisan oleh tambang. Di Kalimantan Timur sedikitnya ada 33 ijin Kontrak Karya dan 1.212 Kuasa Pertambangan - terbanyak di Indonesia. Sementara kawasan hutan terakhir Kalimantan Selatan - pegunungan Meratus, juga akan dibuka untuk tambang sebesar 311 ha.
Tiap tahun, luasan hutan dan lahan pangan Kalimantan menyusut berganti lahan pengerukan batubara dan kebun sawit skala besar. Sementara jumlah pengangguran dan pendududk miskin di sekitar kawasan eksploitasi di atas, angkanya cenderung naik.

Kalimantan bagai menggali kuburnya sendiri, bagaimana menurut anda? Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM 

HOME
Kasus Lapindo Mestinya jadi Materi Debat Capres PDF Print
on Thursday, 04 June 2009

Views : 2759    


Siaran Pers Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo, 4 Juni 2009

“Kasus Lapindo mestinya menjadi materi debat Capres 2009. Mengapa? Tak hanya karena daya rusak lumpurnya yang meluas di pulau terpadat di Indonesia, menenggelamkan lebih 10 ribu rumah, juga puluhan ribu orang menderita. Juga mempertontonkan, tak bekerjanya fungsi kepengurusan negara diberbagai tingkatan pemerintahan, saat  mereka di setir oleh kepentingan korporasi. Layanan publik lumpuh, penegakan hukum tak berjalan”, ujar Siti Maemunah dari Jaringan Advokasi Tambang.

***

Status keselamatan warga korban Lapindo adalah potret paling memilukan negeri ini sepanjang sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia adalah puncak gunung es ketidaknyambungan antara keselamatan warga dengan potret cantik dan mengkilap keberhasilan pembangunan. Para pejabat pengurus kemaslahatan publik tanpa malu-malu membiarkan warga yang tertimpa bencana bergelut sendiri mempertahankan keberlanjutan hidup. Dan tanpa malu-malu pula mempertontonkan sikap heroik hanya untuk kepentingan pemenangan suara pada proses pemilihan umum. Itulah potret memilukan Pemilu 2009.

Kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) merupakan momentum penting yang digunakan warga korban melakukan upaya mereka, yang tidak kenal lelah dan pantang surut. Mereka berharap berharap presiden dan wakil presiden terpilih memprioritaskan pemulihan keselamatan warga, apabila mereka terpilih.

“Kasus Lapindo mestinya menjadi materi debat Capres 2009. Mengapa? Tak hanya karena daya rusak lumpurnya yang meluas di pulau terpadat di Indonesia, menenggelamkan lebih 10 ribu rumah, juga puluhan ribu orang menderita. Juga mempertontonkan, tak bekerjanya fungsi kepengurusan negara diberbagai tingkatan pemerintahan, saat  mereka di setir oleh kepentingan korporasi. Layanan publik lumpuh, penegakan hukum tak berjalan”, ujar Siti Maemunah dari Jaringan Advokasi Tambang.

Ketiga Capres, terkait dengan penganan kasus Lapindo. Mulai dari sisi kebijakan UU Migas No 22 tahun 2001, Perpres No 14/ 2007, Perpres No 48/2008 hingga praktek penanganan kasus di lapang. Oleh karenanya, langkah-langkah penanganan kasus Lapindo sangat relevan menjadi alat ukur para Pemilih  mengukur kemampuan dan kesungguhan ketiga Capres 2009 – 2014. “Oleh karenanya, penting bagi KPU menjadikan penanganan kasus Lapindo, sebagai materi debat Capres 2009,” ungkap Taufik Basari dari LBHM, yang juga mendampingi warga korban datang ke KPU, Kamis - 4 Juni 2009..

Tiga tahun lalu, lumpur menyembur dari sumur pengeboran Banjar Panji-1 PT Lapindo Brantas milik Abu Rizal Bakrie, salah satu anggota kabinet SBY-JK. Saham Lapindo juga dimiliki PT Medco – milik Arifin Paniogoro, dan Santos dari Australia. Baru Maret 2007, Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengarahkan kepada jual beli aset tanah dan bangunan. Bukan penyelamatan dan pemulihan warga sebagai korban.

Lumpur Lapindo menghancurkan kehidupan warga Porong, Sidoarjo. Bukan hanya rumah dan tanah mereka yang terendam oleh lumpur, namun juga harapan mereka untuk dapat hidup layak seperti manusia lainnya.

“Kami sudah bertemu Bapak Jusuf Kalla kemaren, tapi jawaban-jawaban yang disampaikan pada pertayaan yang kami ajukan, membuat kami kecewa. Oleh karenanya, kami semakin yakin datang ke KPU. Jika langkah nyata penangan kasus Lapindo disampaikan oleh masing-masing Capres. Maka para pemilih akan mendapatkan informasi yang cukup untuk menilai, mana Capres yang berpihak pada keselamatan rakyat,” ujar Muhamad Sifak, dari desa Permisan, salah satu korban lumpur Lapindo.[ ]

Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo: Jatam, Kontras, Kiara, Walhi, Satu Dunia, LBH Masyarakat, GMLL, UPC, Imparsial, YLBHI, ICEL, UPLINK, Institut Hijau Indonesia, KAU, Lapis Budaya, SAKSI, Solidaritas Perempuan, Sarekat Hijau Indonesia

Kontak  Media 1. Luluk Uliyah (JATAM), 0815 9480 246 2. Firdaus Cahyadi (Satu Dunia), 0815 132 75 698


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
 

INFO KILAT

Sekretariat Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengucapkan Selamat Merayakan Natal dan Tahun Baru 2010

Login Form

AGENDA









logo_saung_125x125.gif

Pojok Lamin

Masyarakat Kabupaten Kulon Progo yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai menuntut agar Perda Prov DIY No 2 Tahun 2010 tentang RTRW pada Pasal 60 ayat 2 huruf b angka 2 menyebutkan, penambangan pasir besi di pesisir selatan dibolehkan. Segera dihapus

Baca Kelanjutannya hanya di Layanan JATAM (Intranet JATAM)

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

UU Lingkungan Hidup harus menjamin siapa?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


pesona_pagiku


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.

 

Anda ingin mendapatkan buku ini?