| on Monday, 15 June 2009
|
Views : 2052  |
Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 km di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. tidak pernah mensosialisasikan dampak-dampak negatif dari proyek tersebut.
Proyek pipanisasi ini mulai dicetuskan pada April 2008, yang rencana awalnya membelah 5 desa: Desa Permisan, Desa Tambak kalisongo, Desa Balong Tani, Desa Jemirahan, dan Desa Trompoasri Kecamatan Jabon, tetangga Kecamatan Porong dan Tanggulangin di mana 13.000 kepala keluarga harus menderita kehilangan rumah, sejarah, dan harta benda akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dusun Janganasem, yang merupakan bagian dari Kelurahan Trompoasri sama sekali tidak dilirik. Pada kenyataannya, beberapa bulan lalu, proyek ini mengambil tumbal para warga Dusun Janganasem, yang mulai kini di dalam hidup mereka telah ditanamkan ketakutan dan rasa was-was akan adanya kebocoran maupun resiko-resiko lainnya dari proyek pipanisasi ini.
PT. PGN Tbk. juga sama sekali tidak mensosialisasikan ganti-rugi bagi para warga. Seolah warga yang tinggal di dusun tersebut merupakan properti yang bisa seenaknya ditumbalkan dan diam. Rencana pipanisasi awalnya ditolak oleh 70 persen dari 438 kepala keluarga yang tinggal di sana. Dalam perjalanannya, PT. PGN Tbk. melakukan intimidasi dari yang implisit sampai yang eksplisit. Politik uang juga mulai bermain. Para warga yang menolak proyek ini diberi uang Rp. 250.000 agar diam dan menerima. Tak hanya itu, pihak PT. PGN Tbk. yang berkolaborasi dengan pemerintah (dari Bupati sampai Camat, dari polisi sampai tentara) juga memalsukan data. Mereka mengklaim 600an kepala keluarga telah menyepakati proyek ini dan karenanya mereka yang tetap menolak proyek ini tidak diindahkan sama sekali. Sekali lagi, eksistensi negara dan korporasi adalah menghisap dan menghancurkan masyarakat, merekalah krisis itu sendiri.
Pembangunan proyek ini sendiri tidak kurang dari melecehkan kemanusiaan. Mereka bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 04.00 dinihari. Tentu saja aktifitas ini meresahkan dan mengganggu para warga yang butuh istirahat. Di tengah dunia di mana kompetisi dan hukum jual-beli berkuasa, kerja upahan untuk bertahan hidup adalah keharusan. Para warga umumnya adalah para petani dan pekerja pabrik, yang dari pagi sampai senja menjelang harus menghabiskan tenaga dengan bekerja. Dengan aktifitas yang cukup melelahkan tersebut mereka masih harus diperas lagi untuk tidak dapat beristirahat dengan tenang akibat aktifitas penyambungan pipa, pengelasan, maupun suara bising dari eskavator. Bayangkan juga bagaimana perasaan para bayi dan anak-anak yang paginya harus bersekolah.
Tak sekali para warga melaporkan PT. PGN ke pihak-pihak pemerintah, dari birokrasi terkecil seperti Kecamatan, Bupati, sampai Kapolres Sidoarjo. Tapi pihak-pihak tersebut tak pernah mengambil tindakan apa pun, selain hanya melindungi korporasi karena mereka pun memiliki kepentingan untuk menghancurkan masyarakat. Aksi langsung yang spontan sampai aksi blokade pun telah dilakukan oleh para warga yang mayoritasnya kaum perempuan.
Terakhir, aksi blokade untuk menghentikan aktifitas pipanisasi yang dilakukan pada tanggal 04 Juni 09, yang disingkirkan dengan paksa oleh tentara dibantu polisi yang memamerkan alat kekerasan modern: senjata api laras panjang. Kaum perempuan yang paling banyak dalam komposisi perlawanan ini pun dibuat takut. Tak sedikit juga yang diseret menjauh dari lokasi agar proyek ini tetap berlangsung. Salah seorang anggota divisi keamanan PT. PGN Tbk. yang tanggungjawabnya menyingkirkan penolakan proyek ini sempat mengancam para warga yang menolak. Orang ini pun dengan bangganya mengaku bahwa dirinya adalah anggota Koppasus. Alat kekerasan memang tak pernah netral.
Proyek pipanisasi ini merupakan pemindahan jalur pipa dari Desa Renokenongo yang meledak akibat terendam lumpur panas Lapindo pada November 06 lalu. Berangkat dari pengalaman itulah para warga Dusun Janganasem menolak pipa gas memasuki wilayah mereka, apalagi mengingat pipa tersebut ditanam di tengah pemukiman padat warga. Pengerjaan pipa tersebut pun sepertinya jauh dari standar keamanan yang ketat. Tak jarang sambungan pipa yang dalamnya kurang dari 2 meter tersebut tampak bengkok. Belum lagi pengelasannya yang terlihat asal-asalan menguber setoran borongan.
Kini, tinggal 200an meter pipa tersebut selesai ditanam. Para warga Dusun Janganasem masih belum kehilangan semangat meski banyak teman-teman mereka yang telah dibeli dan pro-pipanisasi. Dengan kekuatan yang tersisa dari kurang lebih 20 orang, yang banyak kaum perempuannya, mereka akan terus memaksimalkan kekuatan mereka untuk menolak proyek pipanisasi ini. [ ]
Sumber : Fadholly, 081 231 571 800,
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|
|
|