| on Friday, 03 July 2009
|
Views : 2424  |
Penyisiran dan penangkapan mahasiswa pegunungan di Papua juga berpengaruh pada keamanan diri mahasiswa Papua yang ada di Jakarta. Beberapa orang mahasiswa Papua di Jakarta merasakan intimidasi, setiap ada insiden di Papua, asrama mahasiswa selalu didatangi oleh intel dan menanyakan aktifitas mereka.
***
Dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan terakhir ini eskalasi kekerasan di Papua meningkat . Indikasi ini merujuk pada beberapa kasus yang telah terjadi, kasus itu di antaranya:
1. Pasca penyerangan dan penembakan di Kampung Lambuk, Distrik Tingginambut kabupaten Puncak Jaya (15/4), Brimob Kelapa II dan Satuan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri terus melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang diduga sebagai pelaku.
2. Pengembangan penyelidikan polisi terhadap kasus penyerangan Mapolsek Abepura (9/4) telah terjadi penangkapan tujuh orang pada tanggal 18 April 2009 di kompleks perumahan Purwodadi, BTN Sentani (lokasi penangkapan ini merupakan rumah kontrakan dari Buchtar Tabuni, terdakwa kasus Makar yang saat ini disidangkan di PN Jayapura). Satu diantara tujuh orang yang ditangkap adalah Jhon Hisage ditetapkan sebagai tersangka penyerangan Mapolsek. Saat ini, Polda Papua telah menetapkan 5 orang sebagai tersangka penyerangan Mapolsek Abepura.
3. Pada 22 April 2009, seorang tersangka penyerangan Mapolsek Abepura, Erik Logo (23) dilaporkan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di RSUD Jayapura akibat luka tembakan aparat kepolisian.
4. Situasi keamanan di Papua sengaja diciptakan dalam situasi tidak aman, saat ini warga di Papua diresahkan dengan beredarnya isu-isu pembunuhan, kondisi ini telah menyebabkan ketakutan bagi warga sehingga aktivitas keseharian dipusat-pusat perekonomian warga menurun.
5. 1 (satu) SSK Brimob dari Polda Sulawesi Tenggara yang sebelumnya di BKO-kan ke Polda Papua sudah ditarik menyusul kedatangan 80 personil Brimob dari Mako Kelapa Dua, Depok. Untuk memaksimalkan penyelidikan beberapa kasus pembunuhan seperti yang terjadi di Wamena, Densus 88 Mabes Polri telah diterjunkan di lokasi peristiwa. Pengembangan penyelidikan sementara Densus 88 ditemukan indikasi kuat bahwa pembunuhan tiga pengendara ojek di Wamena (8/4) tidak dilakukan oleh kelompok TPN/OPM, sekalipun Koteka Lani menyatakan bahwa pihak OPM yang bertanggungjawab atas pembunuhan itu atas perintah dari Goliat Tabuni (Panglima OPM Pengunungan Tengah)
6. Kini status keamanan di Papua dinyatakan tertib sipil. Polisi terus melakukan penyisiran dan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dicurigai terlibat diberbagai aksi kekerasan. Focus penangkapan diarahkan kepada mahasiswa dari daerah pengunungan.
7. Penyisiran dan penangkapan mahasiswa pegunungan di Papua juga berpengaruh pada keamanan diri mahasiswa Papua yang ada di Jakarta. Beberapa orang mahasiswa Papua di Jakarta merasakan intimidasi, setiap ada insiden di Papua, asrama mahasiswa selalu didatangi oleh intel dan menanyakan aktifitas mereka.
8. Selain penangkapan terhadap kelompok muda – mahasiswa, tuduhan dibalik rangkaian persitiwa juga diarahkan kepada mahasiswa. Dijakarta, mahasiswa Papua mengalami kesulitan untuk mengkonsolidasikan respon atas situasi kemanan Papua yang memburuk. Karena merasa dipantau aktivitasnya oleh Polisi juga beberapa mahasiswa Papua di Jakarta, Jawa – Bali dan Makassar terkonsentrasi di Jayapura sejak Maret dan awal April 2009.
9. Pada tanggal 20 April 2009, sejumlah kalangan sipil, LSM, Lawyer dan Komnas HAM Papua diundang oleh Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen A.Y. Nasution dalam acara (yang disebut oleh Pangdam) sebagai Silaturahmi. Pertemuan itu berlangsung di Vila Pangdam, Dok V atas-Jayapura. Pertemuan itu sendiri tidak menghasilkan satu kesepakatan, namun perwakilan dari kalangan sipil menanyakan beberapa hal terkait dengan situasi keamanan dan posisi TNI. Untuk beberapa hal dijelaskan oleh Pangdam, diantaranya :
10. Penembakan di perbatasan, 22 Juni 2009 di Distrik Arso Timur. Peristiwa penembakan terhadap seorang warga sipil asal kampung Kibay bernama Isak Psakor berumur 16 Tahun oleh pihak bersenjata yang disinyalir adalah oknum TNI dari Batalyon Infantri 725 Pos Sungai Bewan yang sedang melakukan patroli saat itu bersama anjing-anjing pelacak disekitar titik “500 meter” jalan setapak Kampung Kibay (NKRI) – Kampung Skotio (PNG).
11. Polisi Tembak Warga Sipil di Nabire. Melkianus Agapa (36) Ditembak Saat Menderita Malaria (Jum'at, 26 Juni 2009, 17:35 WIB).
Melki, tewas tertembak pistol anggota Kepolisian Nabire pada Kamis 25 Juni 2009. Pasca insiden tersebut, Nabire sontak mencekam. Warga yang marah membawa jasad Melkianus ke ke Markas Kepolisian Nabire dan meletakannya di tengah lapangan.
12. Penembakan terhadap 4 warga sipil di Enarotali ( 30 juni 2009; jam : 10.30), yang menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dan 3 (tiga) orang terluka, peristiwa penembakan tersebut dilakukan oleh oknum brimob polda Papua.
Atas berbagai insiden yang terjadi dan mengancam demokrasi dan hak asasi manusia di Papua, maka penting kami tegaskan :
1. Hendaknya semua pihak tidak terprovokasi akan isu-isu yang tidak bertanggung jawab atau menyesatkan yang mengarah kepada situasi konflik menjelang, pada saat dan pasca pilpres.
2. Dalam penanganan berbagai kasus hendaknya aparat penegak hukum menggunakan pendekatan persuasif dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan local dalam kerangka untuk mewujudkan Papua hidup damai tanpa kekerasan.
3. Semua peristiwa tersebut diatas pihak keamanan harus menggungkapkan apa motif dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Demikian hal ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian
Jakarta, 2 Juli 2009
Foker LSM Papua, KontraS, YLBHI, Federasi KontraS, ELSAM, ALDP, Muridan (Pemerhati Masyarakat Papua) dan Pokja Papua.
|
|
|