Nobody Gets Hurt atau Tak ada yang akan disakiti. Kalimat tersebut tertulis jelas di selembar spanduk berwarna putih berlogo Exxon Mobil dan Pertamina. Dua perusahaan besar migas yang beroperasi di Bojonegoro. Exxon Mobil dari Amerika Serikat, Pertamina dari Indonesia. Mereka membuat kantor bersama di Jalan Teuku Umar Bojonegoro. Di sanalah spanduk itu terpasang. Di sekitar kantor tersebut mungkin tidak ada orang disakiti. Tapi bagaimana dengan warga yang tinggal di sekitar sumur pengeboran migas Pertamina, di Sukowati?
Lapangan Sukowati berada di Desa Ngampel, Sambiroto dan Campurejo Kecamatan Kapas Bojonegoro, sekitar 1,5 kilometer ke arah timur dari kantor bersama tersebut. Lapangan tersebut dioperasikan oleh Joint Operating Body Pertamina dengan Petrochina – perusahaan migas asal China. Di sana saya bertemu Ibu Ramijah, usianya 52 tahun. Sore itu (26/6), ia sedang memetik kacang panjang yang ditanam mengelilingi petak-petak sawahnya. Meski baru berkenalan, sambil memetik kacang panjang, kami berdua mengobrol hangat.
Bu Ramijah bercerita, ia memiliki tanah seluas 8 petak atau sekitar 8 ribu meter persegi di sekitar Sumur pengeboran migas Sukowati. Semenjak ada Sumur Sukowati, hasil panennya menurun. Itu disebabkan karena sinar lampu-lampu di sekitar Sumur Sukowati yang terlampau terang. Sinar itu menyebabkan pertumbuhan bulir padi lambat, bahkan sinar itu mengundang “mimik”. Mimik adalah hama serangga padi yang datang jika ada sinar, ia suka mengelilingi sinar itu.
Dengan ramah Bu Ramijah menawarkan untuk main ke rumahnya. “Mboten tebih kok mbak”, ajaknya, sambil menunjuk ke arah rumahnya yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Lantas, saya menanyakan bagaimana perasaannya tinggal di sekitar sumur migas, ia menjawab: “melak-melik mbak sak niki”. “Melak-melik” artinya was-was atau khawatir dalam bahasa Jawa. Ia menuturkan sejak beroperasinya Sumur Sukowati, setiap malam ia dan keluarganya selalu was-was dan kadang tidurnya tidak nyenyak.
Kekhawatiran Bu Ramijah cukup beralasan, mengingat 2 Desember 2008 lalu terjadi kebocoran gas di sumur pengeboran itu. Gas yang keluar berbau tidak sedap seperti bau WC, katanya. Bahkan gas itu menyebabkan sesak napas, kepala pusing, mual, dan muntah.
Peristiwa itu terjadi malam hari ketika ia dan keluarganya tidur lelap. Malam itu semua orang dikampungnya panik. Sampai-sampai ia sekeluarga harus mengungsi ke rumah saudaranya di desa lain. Bahkan ratusan warga dari Desa Ngampel dan Sambiroto juga berlarian ke luar rumah mencari tempat mengungsi yang aman.
Rupanya, bau busuk itu tidak mudah hilang. Bau itu dirasakan warga hingga beberapa hari kemudian. Keesokan harinya, ada 22 siswa dan 10 guru SDN Campurejo 2 mengeluh mual dan pusing. Bahkan, 4 siswa dilarikan ke rumah sakit. Pada 5 Desember 2008, Tutik, warga Desa Campurejo sesak napas sampai pingsan, hingga harus dibawa ke rumah sakit. Hal yang sama dialami 9 siswa Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) Darul Ulum dan 1 siswa Roudlotul Atfal (setingkat TK) Darul Ulum di Desa Campurejo, yang juga mual-mual, pusing hingga muntah-muntah.
Celakanya, menurut media setempat, kejadian menakutkan serupa telah terjadi berulang kali. Pada 21 Januari 2008 sekitar pukul 07.15 WIB, 2 generator di Sumur Sukowati meledak. Ledakan terdengar hingga radius 3 kilometer. Akibatnya, 3 pekerja mengalami luka bakar dan patah tulang, beberapa sekolah terpaksa menghentikan proses belajar mengajar dan memulangkan siswanya.
Ledakan lebih parah terjadi dua tahun sebelumnya, 29 Juli 2006 sekitar pukul 00.10 WIB. Ketika warga terlelap tidur, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat dari sumur migas itu. Ledakan iterdengar hingga radius 6 kilometer, ada 7 orang pingsan karena kaget. Terlihat kobaran api membentuk bola raksasa sebesar rumah dan setinggi pohon kelapa. Kobaran diikuti suara gemuruh yang berlangsung hingga lebih lima jam.
Akibat kejadian tersebut, puluhan orang dilarikan ke rumah sakit setelah menghirup gas berbahaya yang keluar bersama ledakan. Mereka mengalami pusing, mual, muntah, ada pula yang pingsan. Ribuan warga di sekitar sumur harus mengungsi dini hari itu juga. Karena trauma dan lokasi pengungsian yang jauh, ratusan siswa yang tinggal sekitar sumur terpaksa tidak bisa berangkat ke sekolah.
Berulang kali ribuan warga sekitar Sumur Sukowati disakiti oleh gas bocor dan ledakan. Hingga kini tidak ada jaminan dari Pertamina maupun Petrochina, kejadian-kejadian diatas tak terulang lagi. Juga tak ada jaminan operasi ExxonMobil dan Pertamina tak mengulang hal yang yang sama.
Jadi, apa maksud dari Nobody gets hurt di spanduk itu?