| on Wednesday, 25 July 2007
|
Views : 1852  |
FORUM KOMUNIKASI ANTAR PETANI KAWASAN LERAGERE (FOKAL)
FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA PESISIR (FORKOMDISIR)
BARISAN RAKYAT KEDANG BERSATU (BARAKSATU)
Kami masyarakat Nobo Buto , Masyarakat Nobo Telo Pesisir Utara Lebatukan, dan Kedang yang sejak Bulan Oktober Tahun 2006, digelisahkan oleh isu tentang rencana pembangunan industri pertambangan emas dan tembaga, kerjasama Pemerintah Kabupaten Lembata dengan PT Merukh Enterprise, mengalami dan merasa:
1. Pemerintah Kabupaten Lembata di bawah kepemimpinan Bupati Andreas Duli Manuk dan Wakil Bupati Andreas Nula Liliweri, telah bertindak secara sepihak dan sewenang-wenang, menetapkan kebijakan tambang, tanpa terlebih dahulu membicarakan dengan kami rakyat Lembata yang hidup diatas dan memiliki hak
2. Dalam proses sosialisasi dan persiapan implementasikebijakan tambang tersebut Bupati- Wakil Bupati dan jajarannya secara nyata-nyata telah melakukan penipuan publik, yakni membohongi kami rakyatnya sendiri, dengan informasi-informasi palsu tentang waktu pelaksanaan eksplorasi dan eksploitasi.
Pada berbagai kesempatan dan ruang dialog dengan masyarakat, maupun melalui media masa, mereka mengecam demo kami masyarakat, sebagai aksi prematur, dengan alasan masa eksplorasi masih panjang,dan karena itu eksploitasi masih jauh. Tetapi Merukh, dalam Harian Pos Kupang tgl 9 Juli 2007 menegaskan eksploitasi akan dimulai tahun 2008. Dan atas pernyataan tersebut Bupati Andreas Duli Manuk bukannyamenunjukkan rasa bersalah telah menipu kamirakyat di calon lokasi tambang, malah membenarkan hal itu danbahkan memandangnya sebagaiprestasi Investor (LihatPos Kupang, Juli 2007)
3. Sejak pertemuan Pemerintah Kabupaten Lembata dibawah Pimpinan Bupati dan Ketua DPRD Lembata, dengan Merukh Enterprise di Hotel Grand Flora - Kemang, Jakarta Selatan, tanggal 24 - 27 Agustus 2006, sampai dengan saat ini, Bupati dan Wakil Bupati serta jajarannya, secara terang-terangan menunjukkan bahwa mereka memilih berdiri disisi investor tambang, dengan membelakangi rakyatnya sendiri. Mereka telah secara sadar menunjukkan mereka bukan pemimpin atas rakyatnya sendiri, melainkan penindas rakyat demi kepentingan diri mereka sendiri dan investor.
Mereka mendengung-dengungkan slogan tambang untuk kesejahteraan rakyat, tetapi cara-cara implementasi kebijakan itu sendiri lebih banyak intimidatif, penuh tipu muslihat, curang, dan menebarkan suasana kekhawatiran, ketakutan dikalangan rakyat
4. Bupati dan Waki Bupati telah dengan sengaja memanipulasi bentuk dukungan rakyat Kedang atas rencana pertambangan dengan memanfaatkan kelompokkelompok orang yang bisa dibayar dengan uang dibawah pimpinan Sulaiman Supander dkk, untuk
melaksanakan demo tandingan, pada tanggal Juni 2007. Meskipun mereka tahu bahwa Supandar bukan penguasa hak ulayat atas tanah-tanah Kedang, yang menjadi calon lokasi tambang, mereka, telah dengan sengaja dan secara demonstratif, menerima pernyataan dukungan tersebut di depan publik Lembata, tanggal
5. Bupati dan Wakil Bupati beserta jajarannya, telah dengan sengaja menggunakan skenario konflik horisontal, untuk mengadu-domba, memecah-belah masyarakat. Masyarakat pemilik hak ulayat atas tanah, calon korban tambang, diadu domba dengan masyarakat di luar calon lokasi tambang.
Diantaranya, Bupati dan Wakilnya dengan menggunakan Camat Lebatukan, telah membangun skenario konflik masyarakat Leragere dan Tiga Desa Pesisir (Lewolein, Tapolangu, dan Tapobaran), dengan masyarakat enam desa pesisir lainnya (Waienga, Lerahinga, Hadakewa, Merdeka, Lamatuka dan Baopana), dengan merekayasa surat dan memanipulasi tanda-tangan sejumlah warga keenam desa tersebut (Baca: Surat Pernyataan Dukungan Tambang dari PANPEL, tertanggal 08/06/07).
Di Lewolin, Bupati dan Wakil Bupati telah dengan sengaja, menggunakan Usman Gaga, salah seorang warga suku Paliwala-Lewolein, membuat sebuah pernyataan atas nama Lembaga Pemangku Tanah Adat/ Tuan Tanah Paliwala (padahal Usman Gege bukan menduduki posisi "kote", alias "kepala" didalam struktur adat Suku Paliwala) mengancam semua aksi masyarakat Lewolein, Kepala Desanya, dan Pater Vande Raring, dengan cara-cara yang memancing munculnya reaksi emosional warga, yang berbeda agama (Baca: Pernyataan Sikap Lembaga Pemangku Tanah Adat/ Tuan Tanah Paliwala, Nomor: 03/LPTA-TU/IV/2007, tertanggal 8 Juni 2007)
6. Dengan cara yang sangat melecehkan martabat masyarakat desa/ kampung, Bupati dan Wakil Bupati telah meninggalkan masyarakat, melalui pintu belakang, tanpa mau menjawab tuntutan masyarakat, bahkan tanp pamit.
Mereka membiarkan rakyat menunggu, dan berbicara sendiri, tanpa mereka mau mendengarkannya. Bupati dan Wakil Bupati bahkan juga tidak mengindahkan inisiatif Kapolres Lembata dan jajarannya, memediasi proses komunikasi diantara kami. Semalaman kami tidur menunggu kedatangan Bupati dan Wakil Bupati di halaman depan Kantor Bupati, beralaskan rumput, beratapkan langit dan berselimutkan embun malam, akan tetapi Bupati dan Wakil Bupati tidak menghiraukannya.
Bahkan sejak awal proses demo masyarakat Leragere Bupat cenderung menghindar, melarikan diri dari aksi demodamai masyarakat.Tanggal 15 Januari 2007, dengan alasan sedang dalam kesusahan (anak sakit), kedua, pada aksi demo Masyarakat Leragere dan Pesisir Utar Lebatukan, 11 Juni 2007, Bupati telah meninggalkan Lewoleba, sehari sebelumnya, yakni Minggu, 10 Jun 2007, dengan alasan agenda lain diluar Lembata.
Seluruh rangkaian tindak-tanduk Bupati dan Wakil Bupati tersebut telah membuktikan kepada Kami masyarakat calon korban kebijakan tambang, masyarakat Lembata seluruhnya, serta kepada dunia luar, bahwa mereka dua sesungguhnya pemimpin yang otoriter sewenang-wenang, curang, manipulatif, berorientasi kepada harta dan kekuasaan, menindas, dan memiliki moralitas yang rendah.
Karena itu Kami masyarakat tiga wilayah, Leragere, Pesisir Utara Lebatukan, dan Kedang menyatakan bahwa:
1. Saudara Drs. Adreas Duli Manuk dan Saudara Adreas Nula Liliweri sesungguhnya tidak pantas lagi menjad Bupati dan Wakil Bupati kami rakyat Lembata.
2. Saudara Drs. Adreas Duli Manuk dan Saudara Drs. Adreas Nula Liliweri secepatnya mundur dari jabatan Bupati dan Wakil Bupati. Kami telah tidak mempercayai kalian sebagai Bupati dan Wakil Bupati kami.
Lewoleba, 24 Juli 2007
a.n Masyarakat Leragere
Donatus Atawolo, Ketua Fokal
Yoseph Gire Atawolo, Molan
Thomas Laru, Tokoh Adat
Benediktus Nimu, Tuan Tanah
Kristina Gea, Tokoh Perempuan
Blasius Watan Tukan, Tokoh Pemuda
a.n. Tiga Desa Pesisir Lebatukan
Rafael Suban Ikun, Ketua FORKOMDISIR
Emanuel Mangun, Molan
Maria Goreti Lepang, Tokoh Wanita
Tadeus Tukan, Tokoh Pemuda
Titus Tana Maing, Tokoh Adat
|
|
|