Pengantar

Catatan ini dibuat Siti Maimunah yang mewakili JATAM dan TKPT mengikuti COP 26 di Glasgow. Mai, adalah mahasiswa S3 Universitas Passau Jerman dan juga fellow WEGO-ITN, Marie Sklodowska Curie yang saat ini menjabat Badan Pengurus JATAM dan pendiri TKPT. Ia memaparkan kesaksiannya secara berkala selama mengikuti COP26 dengan kaca mata yang berbeda.

Hari ke Empat


Umbu Wulang dan Para Penjaga Sungai Atraro

Saya dan Andrew bertemu Umbu Wulang hari ini di zona hijau COP26. Dia datang ke bersama Gobang mewakili WALHI/ Friend of the Earth di COP26. Saya senang bertemu mereka tak hanya karena bertemu dengan kawan seperjuangan, tapi juga karena mereka membawa: ikan asin dan sambal pedas!

Sambil makan siang di tepi sungai Clyde, kami mempercakapkan pengalaman selama tiga hari terakhir di COP26. Ini COP pertama buat keduanya.

“Bagaimana perasaan kalian tentang COP26”, tanya saya pada Umbu.

“Seperti datang ke Expo. Tiap stand di zona hijau seperti menawarkan dan menunjukkan program mereka, seperti pameran”, tambahnya. Gobang menganggukan kepala tanda setuju.

Mungkin Umbu benar. Ia sebenarnya punya harapan tinggi pada pertemuan ini. “Saya membayangkan orang akan bertemu untuk mendiskusikan apa yang dialami masyarakat, lingkungan dan iklim serta mendiskusikan solusinya dengan sungguh-sungguh”. Harapan Umbu berbeda dari kenyataan. “Ternyata seperti bekerja sendiri-sendiri”, ujar Umbu.

Memang, ketidak-sungguhan para pemimpin dunia menjawab bencana iklim sangat terasa jika kita datang dengan kesadaran bahwa ibu bumi sedang tidak baik-baik saja. Apalagi buat orang seperti Umbu yang berasal dari pulau kecil seperti Sumba. Pulau Sumba merupakan bagian dari gugusan pulau di Nusa tenggara Timur (NTT) yang lebih kering dibanding wilayah Indonesia lainnya. Dampak perubahan iklim sangat terasa di Sumba Timur yang tahun lalu memiliki 249 hari tanpa hujan. Kekeringan ekstrim di NTT meningkat dari 9 wilayah pada 2020 menjadi 11 wilayah tahun ini. Selian kekeringan, NTT juga dihantam badai siklon tropis Seroja, varian baru siklon tropis yang dipicu perubahan iklim. Sedikitnya 182 orang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya kehilangan rumah.

Tak hanya dihantam bencana iklim, tekanan terhadap rakyat dan alam NTT juga datang dari percepatan industri ekstraktif dan pengadaan infrastruktur skala besar. Alih-alih turun, pengadaan infrastruktur wisata mewah, dan tambang serta smelter mangan bahan baku baterai listrik sepaket dengan pembangunan energi geothermal meningkatkan emisi GRK, perusakan lingkungan dan konflik sosial.

Umbu yang sejak 2016 menjabat sebagai Direktur Eksekutif Walhi NTT menyadari bahwa melindungi tanah dan sumber-sumber air merupakan salah satu kunci rakyat bertahan dari dampak perubahan iklim. Inilah yang mendorong dia dan teman-temannya di Sumba menyelenggarakan Festival Masyarakat adat Wai Humba sejak 2012. Awalnya festival ini ditujukan untuk melindungi Gunung Wanggameti yang saat itu akan ditambang emasnya, padahal itu kawasan konservasi, puncak tertinggi dan sumber air utama di pulau Sumba. Lewat ritual untuk beterima kasih pada sungai dan sumber air, permainan tradisional, penghijauan dan diskusi komunitas serta ikrar menjaga alam, Festival Wai Humba menjadi salah satu cara Umbu dan masyarakat adat Sumba menjaga alam dan merawat iklim.

Tak hanya di Indonesia, masyarakat juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ruang hidupnya yang dirusak korporasi, seperti dituturkan Viviana Gonzalles yang saya temui di zona hijau. Bersama timnya, pengacara perempuan asal Colombia ini baru saja menenangkan gugatan tentang hak Sungai. Ia bercerita tentang Para penjaga Sungai Atraro.

Sungai Atraro membentang sepanjang 630 kilometer melintasi wilayah hutan yang kaya keragaman hayati di Departemen Choco, Colombia. Wilayah ini sejak lama menjadi pusat konflik bersenjata antara pemerintah, pemberontak bersenjata, tambang illegal dan penebangan liar lebih dari setengah abad. Sungai yang memiliki 15 anak sungai ini juga menjadi jalur penyelundupan emas. Rakyat sepanjang sungai hidup bagai pelanduk yang  bakal mati di tengah gajah-gajah yang sedang bertarung. Mereka tak hanya menghadapi kekerasan dan pembunuhan tetapi juga Atraro, sungai yang menjadi sumber air utama mereka mengalami pencemaran berat.

Pada 2014,  Enviromental Justice Global Atlas mengenali Colombia sebagai wilayah konflik lingkungan terparah di dunia. Ombudsman Colombia menyerukan situasi darurat kemanusian. Hingga 2020, Colombia  tercatat sebagai negara dengan kasus pembunuhan aktivis lingkungan tertinggi di dunia.

“Di sana, rakyat seperti sendirian menghadapi krisis sosial ekologis berpuluh tahun”, ujar Vivian.

Terinspirasi dari kerangka kerja hukum tentang hak alam  “Right of nature” yang sedang dikembangkan di Amerika Serikat, Ekuador, Bolivia, Selandia Baru, dan India, pada 2015, empat wakil komunitas  mengajukan acción de tutela ke Mahkamah Konstitusi, atau gugatan perwalian dengan tuduhan pemerintah Kolombia telah melanggar hak-hak dasar warga negara dengan melakukan pembiaran terhadap usaha-usaha illegal. Gugatan ini dikenal dengan perkara Hukum T-622.

Pada 2017, Mahkamah Konstitusi akhirnya memutuskan bahwa Sungai Atrato memiliki subyek hukum dan berhak atas perlindungan, konservasi, pemeliharaan, dan pemulihan. Kemenangan ini menginspirasi masyarakat lainnya di Colombia untuk mengajukan gugatan serupa. Ini tidak mengherankan karena negara ini bergantung kepada ekonomi ekstraktivisme yang rakus lahan dan air.

“Sudah ada 20 kasus yang berhasil memenangkan gugatan ha katas sungai ini di seluruh Colombia. Kemenangan ini juga menginspirasi masyarakat lainnay di Bolivia dan Ekuador yang berencana mengajukan gugatan serupa”, ujar Vivian.

Mahkamah Konstitusi juga memerintahkan menunjuk perwakilan yang mewakili suara sungai. Inilah yang melatari lahirnya “the Guardian of Atraro River”. Ada 14 perwakilan masyarakat dari komunitas yang menjadi semacam juru bicara bagi para penjaga sungai Atraro. Mereka terdiri dari 7 laki-laki dan  7 perempuan.

Bagaimana mereka mendengarkan dan berkomunikasi dengan sungai yang mereka wakili? Saya harus bertemu dengan Vivian lagi untuk mengetahui jawabannya.