Rp. 55.000,00
Rp. 55.000,00

Secara umum usaha Grup Bakrie memenangi konstruksi kebenaran tentang bencana gunung lumpur sesuai sudut pandang mereka cukup berhasil, tapi pada saat yang sama keberhasilan itu menandakan pembungkaman dan eksklusi konstruksi alternatif tentang insiden ini. Oleh karena itu, mungkin, intensi penelitian sosial tentang kasus Lapindo adalah mengungkap: bagaimanakah praktik pembungkaman dan eksklusi tersebut dilakukan?

Dengan Membeli Buku Ini Anda Telah berdonasi untuk Penyelamatan Lingkungan.
Untuk pemesanan bisa menghubungi Dona Rahayu (082172420299)

Buku ini berkontribusi pada pemahaman pembacanya terhadap kasus fenomenal Lumpur Lapindo di Sidoarjo. Analisis yang dikemukakan dalam buku memberikan analisis yang tajam sekaligus diperlukan untuk lebih memahami peristiwa Lapindo bukan semata bencana alam, tetapi juga suatu rekonstruksi media yang berafiliasi pada pemilik Lapindo, pertarungan wacana, serta pertarungan pengelolaan citra oleh para perusahaan kehumasan. Buku yang akan segera menjadi referensi aneka studi soal konstruksi media, upaya kehumasan dan dampak buruk konglomerasi media. – Ignatius Haryanto M.Hum., peneliti media di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta

Kebenaran dalam Kasus Lumpur Lapindo menjadi sesuatu yang relatif karena bisa dikonstruksi oleh para pihak yang memiliki kuasa, termasuk industri media. Opini masyarakat bisa dibangun melalui informasi yang disebarkan atau dibatasi oleh pejabat publik, ahli, perusahaan, media massa, maupun pihak-pihak lain. Berlarut-larutnya kasus ini menunjukkan adanya pertarungan untuk mempengaruhi kebenaran itu. Buku ini menyajikan dengan apik berbagai hasil pengamatan dan penelitian terkait bagaimana tarik-menarik kebenaran dalam kasus Lumpur Lapindo. – Bambang Catur Nusantara, Badan Pengurus Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) dan Dewan Daerah WALHI Jawa Timur

Kumpulan tulisan ini memeriksa mekanisme camera obscura dalam pembentukan cara dan praktek-tutur untuk menyamarkan kegagalan mencegah dan mengatasi ledakan bawah-tanah di sumur Banjarpanji I, Sidoarjo, Blok Brantas, Jawa Timur. Kasus ini merupakan skandal industri terburuk di jaman setelah Suharto. Ia mencakup kolusi di antara korporasi dengan cabang-cabang pengurus negara pengelola industri minyak dan gas, pengerahan dana publik untuk menutup biaya pengendalian kerusakan sosialekologis, serta fabrikasi konsensus dan pengerahan kepatuhan warga-negara di wilayah bencana industri tersebut. Operasi para pelaku kunci di sepanjang drama yang belum usai ini dapat kita perbandingkan dengan yang berlangsung pada berbagai bencana industri besar lainnya, seperti PLTN Chernobyl, penyamaran dampak kebocoran di PLTN Fukushima, skandal Union Carbide di Bhopal, ledakan bawah permukaan di anjungan Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Kisah Banjarpanji I sendiri membuka sebuah ruang bertutur tandingan yang selama ini dibungkam, yaitu gambaran tentang bagaimana kompleks industri-energi mendikte dinamika pembesaran rerantai nilai dan rerantai pasokan energi dengan sedikit sekali mengacu kepada pola energetika untuk metabolisme sosial di sebuah negara. – Hendro Sangkoyo, ahli politik ekologi, pendiri Sekolah Ekonomika Demokratik