Tragedi 12 Anak Tewas Akibat Lubang Bekas Tambang Batubara
12294918_1033433266688071_5673280285222450853_nSamarinda 27 November 2015. Satu-satunya di Indonesia, Ibu Kota Provinsi yang wilayahnya 71% dikuasai pertambangan, sehingga menyebabkan debu, tercemarnya air dan banjir yang melanda ketika hujan turun cukup satu jam. Lokasinya pun sangat dekat dengan pemukiman, dengan lebih dari 150 lubang tambang yang masih menganga dan tidak direklamasi.Tidak ada Ibu Kota seburuk Samarinda, dengan tata kelola lingkungan yang buruk tersebut kami rasa Samarinda pantas mendapatkan trophi penghargaan sebagai Kota tak ramah lingkungan, terlebih lagi, lubang-lubang tambang yang menganga dekat dengan pemukiman dan fasilitas publik tersebut, telah menelan 12 nyawa anak-anak pula.

Aprilia Wulandari (13th), melengkapi satu lusin atau 12 anak Samarinda yang tewas tenggelam dilubang bekas tambang. Aprilia Menyusul M.Yusup Subhan (13th), Ardi bin Hasyim (11th),M Raihan Saputra (10th), Nadia Zaskia Putri (10th), Maulana Mahendra (11th), Ema, Dede rahmat keduanya berumur (6th), Ramadani (11th), Miftahul jannah (10th), Junaidi (13th) dan M.Sendy (8th) yang telah meninggal dunia sebelumnya.

11045501_10205547920720861_7722951258015279995_nMasalah anak Samarinda yang mati di lubang tambang ini terjadi sejak tahun 2011 hingga sekarang, dan jumlahnya terus bertambah, Wali Kota dan Gubernur seakan tidak ada daya dan upaya untuk membuat kebijakan peyelesaian masalah ini.

Proses hukum yang diawali penyelidikan polisi, juga tidak berujung, bahkan sampai level Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga tidak ada langkah pasti untuk peyelesaian masalah ini. Presiden Joko widodo juga mengetahui masalah ini, namun sama, tetap juga tidak punya empati sedikitpun, ketika ditanya, sambil berlalu dan berkata “tanyakan pada Awang Faroek” .

Mengatasi masalah tersebut, yaitu warga kota harus sadar kalau masalah tambang ini adalah masalah dan musuh bersama warga kota, karena sadar atau tidak, semua warga adalah korban dari daya rusak tambang, warga Samarinda mana yang tidak pernah terjebak banjir ?, itu contohnya.

Selama lubang-lubang tambang tersebut masih menganga, akan tetap ada korban anak Samarinda yang akan mati tenggelam, selama tidak ada reklamasi wilayah tambang, SAAamarinda akan tetap mengalami banjir dan kualitas udara yang buruk. Jaang mengatakan, “tersedia dana kurang dari 80M dari perusahaan tambang Samarinda untuk jaminan reklamasi. Dana itu tidak bisa digunakan menutup lubang tambang lantaran terkendala peraturan yang tak tegas.” Yang tidak tegas, peraturannya atau Jaangnya yang tidak bisa tegas..?

Uang Rp.1000,- , yang biasanya kita sia-siakan, kali ini bisa menjadi alat bantu untuk menjawab masalah ini, dengan cara mengumpulkannya, dan menyerahkan kepada Pemerintah Kota Samarinda yang mengaku tidak bisa mempergunakan dana jaminan reklamasinya, sekaligus menunjukkan kalau warga Kota ini punya rasa empati yang tinggi akan masalah lingkungan ini.

Kalau pemerintah tidak bisa mengurus permasalahan ini, maka warga kota ini yang harus bisa menyelesaikan masalah ini, jika ini bisa kita lakukan pemerintah harusnya malu dan mundur dari jabatannya karena terbukti tidak becus mengurus permasalahan ini.

“bencana dari negeri air mata, 12 jiwa pergi mendahului kita, bara luka korbankan cita rasa bersama, bara luka ciptakan satu pelita. Saudaraku yang pergi tak hanya tinggalkan nama, saudaraku yang pergi tinggalkan sejuta makna, saudaraku yang pergi membangunkan seisi dunia, agar mengerti dalamnya makna masalah yang ada. Tunjukan bahwa kita semua bersaudara, luka mereka, luka kita semua. tunjukkan, tunjukkan oleh kita derita yang ada derita kita semua..(marjinal)”