Kepentingan Apa dan Siapa di Balik Upaya Paksa atas Keberlanjutan Proyek Geothermal Wae Sano?

Pada tanggal 29 Mei 2021, Keuskupan Ruteng telah mengirimkan surat yang ditujukan kepada Presiden RI, berisikan rekomendasi untuk meneruskan proses proyek geothermal Wae Sano. Tujuh bulan sebelumnya, Keuskupan Ruteng telah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber-Daya Mineral (ESDM), untuk mencari pemecahan menyeluruh yang muncul dari proyek tersebut.

Meski kami warga Wae Sano sering kali tidak dilibatkan dan tidak menjadi pihak “tujuan” dari Surat Rekomendasi Keuskupan Ruteng, namun kami telah memperoleh dan mempelajari seluruh isi surat itu dari berbagai pihak, termasuk dari pemberitaan media.

Demikian juga dengan pemerintah, perusahaan, dan lembaga keuangan yang berupaya untuk melanjutkan proses proyek geothermal Wae Sano, meski hampir seluruh proses secara dominan dijalankan dengan pendekatan “jalur atas” /berbasis wewenang/kekuasaan, bukan pendekatan pelibatan warga-masyarakat secara sejati.

Tiga tahun terakhir juga, kami belajar bersama dengan beragam komunitas warga terdampak geothermal dan jejaring perlawanan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia, sebagai salah satu bekal perjuangan di tengah dominasi informasi dan pengetahuan oleh pihak-pihak tertentu atas permasalahan kehidupan kami.

Untuk itu, kami warga Wae Sano sebagai pemilik kampung, yang hidup dan mati di atas tanah dan air Wae Sano, telah membuat dan mengirimkan Surat Terbuka kepada Uskup Keuskupan Ruteng, Pemerintah, Perusahaan, dan sesama warga Flores serta sejumlah pihak lainnya, sebagai bentuk tanggapan resmi atas Surat Rekomendasi Keuskupan Ruteng, sekaligus ingin mempertegas sikap penolakan kami atas proyek geothermal Wae Sano.

Baca selengkapnya:

[Surat Terbuka] Wae Sano Ruang Hidup Kami!

Download - PDF